Perang dagang mendominasi pergerakan rupiah sepekan ini

Perkembangan kondisi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China menjadi faktor utama penggerak nilai tukar rupiah dalam sepekan ini.

Mengutip Bloomberg, Jumat (30/8),  di pasar spot, rupiah tercatat menguat 0,28% ke Rp 14.198 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah juga menguat 0,11%.

Sementara, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah kompak tercatat menguat 0,11% ke 14.237 per dolar AS. Dalam sepekan rupiah menguat 0,08%.

Ekonom Pefindo Fikri C. Permana mengatakan, pergerakan rupiah sepekan ini seiring dengan perkembangan kondisi perang dagang AS dan China.

Di awal pekan, AS dan China gencar melempar tambahan tarif impor dan membuat nilai tukar rupiah tertekan terhadap mata uang the greenback.

Namun, rupiah berbalik arah, jadi menguat dalam dua hari terakhir karena kondisi perang dagang AS dan China mulai mereda, sejak kedua negara sepakat untuk melakukan perundingan kembali di September.

Fikri memproyeksikan sentimen eksternal akan lebih kuat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah di pekan depan dari pada sentimen internal. “Perang dagang masih akan membayangi pergerakan rupiah di pekan depan,” kata Fikri.

Jika dalam perundingan AS dan China berjalan baik dan menghasilkan titik temu, Fikri memproyeksikan rupiah berpoteni terapresiasi di rentang Rp 14.100 per dolar AS hingga Rp 14.200 per dolar AS untuk sepekan depan.

Namun, jika perundingan AS dan China tak berujung damai Fikri memproyeksikan rupiah bisa depresiasi ke rentang Rp 14.250 per dolar AS hingga Rp 14.350 per dolar AS.

Sementara, sentimen internal yang akan muncul di pekan depan dan berpotensi mempengaruhi pergerakan rupiah adalah data inflasi serta defisit transaksi berjalan.

Sumber: Kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *